Tentang Lazuardi
The Histories
Lazuardi dibentuk secara sengaja pada awal 2008 untuk menyelesaikan sebuah proyek film dokumenter bertema ADOPSI POHON di kawasan Kaliurang oleh empat cewek yang penasaran setengah mati sama dunia visual – Fikka, Risa, Nobi, dan Chusnul. Lha, kug cewek semua? Jangan protes dulu atau malah terkagum-kagum. Sebenarnya gara-garanya sederhana aja, lantaran mereka berempat belum berhasil nemuin cowok yang bisa dijadi’in tumbal buat ngangkut-ngangkut peralatan film, hehe .. Setelah ADOPSI POHON selesai, para anggota komunitas ini berusaha menjaga eksistensi Lazuardi sembari berjuang menuntaskan gelar mahasiswa abadi mereka.
Salah satu caranya, dengan membuat blog gado-gado ini. Disebut gado-gado ya karena isinya macem-macem. Ngga cuma tentang film pendek ato fotografi aja, tapi kadang-kadang bakal ada resensi bukunya juga, ato hal-hal ngga penting seperti tips ngerawat hamster :p. Penting ngga penting, Lazuardi sangat berterima kasih sama kalian, bloggers ato bukan, yang rela singgah buat ngebaca CATATAN LAZUARDI. ***
LAZUARDI are |FIKKA OCTORA P|CHUSNUL KHAIRUDDIN|RISA FAHRENI|NOVITA AYUNINGTYAS|AYU WIKANDARU|SUNARSIH|serta masih mungkin bertambah lagi dalam waktu dekat
The Crews
Fikka Octora Putri
Doi adalah anggota paling tua diantara anggota2 yang lain, tapi doi nggak kalah imut kok ama yang lain. Yang jelas tampang doi gak boros2 amat, jadi nggak heran kalo masih ada yang nyangka kalo doi angkatan 2005 bahkan dikirain anak SMA….hihi (maaf ya kalo ada yang tiba2 mules atawa tiba2 pusing hehe…J)
Ceritanya sekarang doi lagi berjuang buat nyelesein tugas dan misi mulianya di Sekolah Gajah* (Ugm maksudnya). Selain itu, akhir-akhir ini doi sering mengisi waktu untuk jeprat-jepret sana sini, motret bak fotografer .Episode hidup yang cukup aneh bagi doi, soalnya dulu doi nggak suka ama foto, apalagi bayangin bakalan motret sampe manjat pohon, manjat gedung, guling2 di jalan buat ngambil objek ( hehe… maaf kalo yang ini agak berlebihanJ). Pengalaman pahit doi tentang foto, doi berpikir kalo foto itu hanya bisa membangkitkan yang sudah “mati” dan takkan kembali menjadi “hidup” lagi dan menghisap seluruh kebahagian bak Dementor*.Tapi, pikiran itu perlahan2 hilang dan berganti, seiring interaksinya yang semakin intens dan dekat dengan foto dan film, bersama teman-teman Lazuardi tentunya. Baginya foto sekarang menunjukkan eksistensi dirinya terutama bagi dirinya sendiri.
Selain itu doi juga terobsesi dengan dunia film dan dikit2 coba buat film indie bareng teman2 seperjuangan di Lazuardi
Chusnul Khairuddin
Tak ada yang menyangka si sulung dari dua bersaudara ini akan menggeluti dunia fotografi. Ayahnya bukan seorang fotografer dan hanya sesekali memotret anggota keluarga bila ada sisa film seusai memotret kegiatan kantor atau kalau sedang iseng. Dinding rumah mereka sama sekali bersih dari karya fotografi, pun tidak sebingkai foto keluarga. Bila ada pertanda, itu adalah keluhan guru SDnya saat kelas satu, karena kebiasaannya yang suka memicing-micingkan mata ketika melihat ke arah papan tulis, sekalipun ia duduk di deretan pojok kanan depan. Padahal yang saat itu sedang dilakukannya sebenarnya bukanlah ingin membaca tulisan di papan, melainkan mengukur kompisisi papan tulis itu dan membingkai ujung-ujungnya dengan sudut siku-siku yang dibentuk kedua tangannya.
Ia mendapatkan kamera pertamanya pada umur 15 tahun dan menggunakannya sepanjang studi tour ke pulau Bali bersama teman-teman ENGLISH PILOT PROJECT di sekolahnya. Sayangnya, hasil jepretannya tidak begitu bagus. Sebagian besarnya rolnya pun gagal cetak lantaran terbakar. Setelah itu, untuk waktu yang agak lama, Chusnul tidak pernah menyentuh kamera lagi. Sampai ia mengikuti kuliah Fotografi dan mendapatkan nilai B. Sebuah nilai yang sangat layak, mengingat ia tidak mengerjakan tugas esai fotonya dengan sepenuh hati.
Ia baru merasa benar-benar jatuh cinta pada fotografi ketika bertemu Alvein Damardanto, seorang fotografer freelance, sehingga memutuskan ingin belajar lebih banyak lagi tentang fotografi. Dari Alvein, ia belajar bagaimana menggunakan bahasa visual, juga bagaimana menggunakan “kamar gelap” digital. Dari buku, ia belajar bagaimana para fotografer lain memaknai aktivitas fotografi mereka. Dari komunitas FN, ia belajar bagaimana menghargai karya foto orang lain serta mengetahui teknik yang mereka gunakan. Dari pameran foto, ia belajar menjadi rendah hati.
Saat ini, ia berpendapat masih banyak hal yang belum dipelajarinya. Sembari melakukan itu, kadang-kadang ia melakukan hobi barunya, membuat film pendek bersama teman-temannya. “Tetap fotografi adalah cinta mati saya”, katanya sambil tersenyum memamerkan lesung pipit mungilnya.*
Novita Ayuningtyas
I’m just an extraordinary girl, in an extraordinary world…
The Worls is so BIG for me, and too BEAUTIFUL too LIE…
Sometimes I feel LOST but thanks GOD you’ll FOUND me with all my FRIENDS in Laz_Comm (FiKKa, CHuSNuL, RiSSa, aYu, ASiH et aLVeiN…
D’ Luvly Asih
Salamun’alayk.
Kenalin, aku anggota baru di Lazuardi.
Nama lengkapku, Sunarsih. Biasanya dipanggil Sun atau Asih. Statusku sekarang double…maksudnya I’m both student and lecturer. Aku lagi studi S2 di Linguistik UGM, menunaikan tugas belajar dari tempat kerjaku, STKIP Muhammadiyah Kotabumi Lampung Utara. Alhamdulillah disokong Beasiswa Program Pasca Sarjana (BPPS) dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Semoga bisa menunaikan amanah ini dengan baik J
Bergabung di Lazuardi seperti menjemput takdir. Begitu indah skenario Allah mengaturnya. Setamat S1 dan harus pulang kampung, aku tetap bercita-cita bahwa aku harus S2, entah S2 Sastra, Linguistik, maupun Kajian Budaya dan Media. Pilihanku adalah UI, UGM, atau UNS. Ga pede apply ke Aussie, UK, ato Amrik, then malah ngebet banget ke Malaysia. Tapi kalo ke Malaysia niat utamanya bukan mau studi sih…. Motivasi terbesar adalah cuma mau jalan-jalan ke sirkuit Sepang nonton Kimi “The Iceman” Raikkonen kebut-kebutan di balapan Formula 1 he33x…:-D
Well, setelah konsultasi dengan para orang tua macam emakku, dosen PA-ku jaman S1, teman-teman S1, para atasan dan teman-teman mengajar di STKIPM Kotabumi, pilihan jatuh ke Linguistik UGM. Pertimbangan utama adalah minatku dan sedikit tuntutan profesionalisme. Secara gue dosen, so bidang ilmu harus spesifik sesuai S1 dulu. Pas S1, aku kuliah di Sastra Inggris UNY konsentrasi Linguistik. Jadilah aku daftar S2 dan mengajukan aplikasi BPPS pada bulan Maret 2008. Sembari menunggu pengumuman bulan Agustus/September 2008, aku menyusun beberapa rencana kehidupan. Salah satu rencanaku adalah kalau jadi S2 di UGM, maka aku akan belajar film, baik dari segi kreatif maupun manajemen.
Ternyata eh ternyata, ga lama aku di Yogya dalam rangka S2, aku bertemu (kembali) dengan Fikka dan Alvein. Dahulu semasa S1, aku sempat ketemu mereka di komunitas al-Manar, tapi cuma sebentar-sebentar saja. Begitulah takdir Allah bicara. Aku resmi bergabung dengan Lazuardi sebagai bagian dari upayaku untuk mengabdi pada-Nya dan menyampaikan pesan utusan-Nya. Aku ingin bisa membuat karya film yang memuat substansi Islam, bukan secara vulgar dan hard-selling, namun yang penuh semiotika. Karena film semacam itu akan mencerdaskan produsen dan penontonnya. Film yang tak (mudah) terlupakan. Film yang mengajak berpikir, mencerna pesan, dan menggali kesan dari tanda-tanda yang ditampilkan. Proses berpikir akan membuat pesan lebih teresap di hati dan benak, bukan asal masuk kuping dan mata kanan lalu keluar dari kuping dan mata kiri J Pesan Allah dan RasulNya yang dimediasi secara semiotik lewat karya film-filmku mudah-mudahan bisa lebih tertanam kuat dan dapat menumbuhkan kesadaran khalayak untuk menggerakkan amalannya sesuai tuntunan Allah dan RasulNya.