jump to navigation

Riri Reza Desember 13, 2008

Posted by lazuardian in Episode Sutradara Indonesia.
Tags: ,
add a comment

Sang Sutradara
Sang Sutradara

Waktu masih SMA, Riri Riza lebih dikenal sebagai anak band. Itu lantaran sejak SMP ia memang punya hobi bermain musik. Makanya, selulusnya dari SMA, Riri kemudian berkeinginan melanjutkan kuliah di Jurusan Musik Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi entah kenapa, “Begitu tahu di sana ada jurusan film, saya malah lebih tertarik untuk memasukinya,” tutur Riri, yang juga punya hobi fotografi itu.

Ketertarikan Riri terhadap dunia film bukan tanpa alasan. Sejak kecil, boleh dibilang ia sudah akrab dengan hal-hal berbau film. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajaknya ke pelosok-pelosok daerah untuk memutar film pembangunan. Menurut pria berkacamata minus itu, keliling pelosok tersebut menjadi hiburannya ketika ia anak-anak.

Ya, pilihan Riri rupanya tak meleset. Berkat ketekunannya dalam belajar, ia tercatat sebagai mahasiswa paling menonjol di kampusnya. Riri juga menjadi lulusan terbaik IKJ untuk angkatannya. Selain itu, berkat ketekunannya pula, sejumlah prestasi di bidang film diraihnya. Film perdananya (setelah ia lulus dari IKJ) “Sonata Kampung Bata” memenangkan suatu penghargaan dalam Festival Film di Jerman. Atas prestasinya itu, Riri diundang ke Jerman. Dan itu sekaligus menjadi pengalaman pertamanya jalan-jalan ke luar negeri. “Ayah saya senang sekali. Dan saking senangnya, ia sampai ikut membantu membuatkan paspor dan visa segala,” kenangnya. “Pokoknya, waktu itu suasananya dramatis sekali. Bayangkan, ayah saya belum pernah membawa saya ke luar negeri, tiba-tiba saya diundang ke Jerman,” tambahnya. Sepulangnya dari Jerman, debut Riri dalam dunia sinematografi seolah tak terbendung. Ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film — baik film pendek, film dokumenter, film televisi, sinetron, ataupun film layar lebar. Salah satu debut film layar lebarnya berjudul KULDESAK (1998), yang digarapnya bersama sahabatnya Mira Lesmana, Nan T. Achnas dan Rizal Mantovani. Keberhasilan film ini, mengukuhkan dirinya masuk dalam daftar sutradara berbakat nasional.

Riri kemudian memproduksi Siulan Bambu Toraja (film dokumenter), Buku Catatanku (film televisi), Kupu-Kupu Ungu, episode Emilia dan AIDS (sinetron), film ELIANA, ELIANA (2002), GIE (2005), UNTUK RENA (2005) dan TIGA HARI UNTUK SELAMANYA (2007). Selain Riri juga pernah menjadi produser film ADA APA DENGAN CINTA? dan RUMAH KETUJUH.

Riri juga pernah dipercaya untuk mengarap klip album bintang cilik populer Sherina Munaf, bertajuk Andai Aku Besar Nanti. Video klip inilah yang menjadi cikal munculnya film kedua karyanya bertajuk, PETUALANGAN SHERINA (2000). Film bertema anak-anak yang melibatkan bintang senior Didi Petet dan Butet Kertaradjasa.

Sebagai sutradara film dukumenter, karya pria berkacamata ini di antaranya telah memproduksi ANAK SERIBU PULAU untuk episode SIULAN BAMBU TORAJA dan KUPU-KUPU DI ATAS BATIKKU. Karyanya berjudul SONATA KAMPUNG BATA (1993), merupakan film ujian kelulusannya di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta

Dalam produksi film-filmnya Riri juga sempat bertindak sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser. Meski begitu, ia lebih tertarik untuk berkonsentrasi di bidang penulisan skenario. Itu pula yang didalaminya ketika ia mendapat beasiswa untuk kuliah program master di Inggris. Kutu buku dan penggemar berat nonton film itu mengambil bidang penulisan skenario film di Royal Holloway University, London, pada 2001.

Yang jelas, dunia film kini telah menjadi pilihan hidupnya. Bagi Riri, dunia film bukan cuma sekadar ajang mencari sesuap nasi — tapi alat perjuangan. Riri ingin mengangkat persoalan hidup yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat akan terbuka mata hatinya Ya, sebuah cita-cita yang tak bisa dibilang sederhana.

Riri tidak sekedar berkarya dan memproduksi film berbobot. Sosok idealisnya sebagai sineas film ditunjukan saat dirinya bersama puluhan teman sineas lainnya memprotes hasil FFI 2006. Menurut dirinya dan rekan-rekan film lainnya, dunia film Indonesia perlu perombakan sistem dan birokrasinya.

Lantas apa obsesinya? Untuk jangka panjang, Riri ingin membuka sekolah penulisan skenario film. Dan untuk jangka pendeknya, ia ingin membuat film tentang kehidupan pasar tradisional di Indonesia. “Di pasar itu kita bisa melihat karakter manusia yang sebenarnya,” katanya. “Barangkali, di sanalah tempat hidup yang sesunguhnya,” tambah pria yang punya hobi mengisi waktu luangnya dengan jalan-jalan ke pasar tradisional itu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.