Posted by lazuardian in Filmologi.
Tags: Hollywood, Indie, LSF, MPAA, Rating system, Sensor, Sistem Rating
Seperti halnya LSF di Indonesia, Hollywood pun memiliki Motion Pictures Association of America (MPAA) untuk menentukan audiens yang tepat dari sebuah film. Banyak unsur yang menjadi pertimbangan dalam menentukan rating dari sebuah film. Mulai dari gaya bahsa yang digunakan, adegan bermuatan seks yang terkandung di dalamnya, penggunaan obat-obatan terlarang di dalam cerita film, unsur kekerasan dan tingkat sadisme, serta apakah film ini memperlihatkan adegan berdarah. Pada 2007, MPAA menambahkan satu elemen tambahan yaitu merokok.
Berikut adalah sistem rating yang berlaku di Amerika
G – General Audiences
General Audiences di sini bermakna bahwa film yang mendapatkan rating ini dapat disaksikan oleh siapa pun, tanpa terkecuali. Hal ini dikarenakan film yang mendapatkan rating ini tidak megandung unsur adegan tanpa busana, tidak ada unsur seks maupun obat-obatan terlarang. Kekerasan disajikan dengan sangat minimal dan gaya bahasa yang digunakan tidak boleh kasar. Biasanya film yang mendapatkan rating G adalah film anak-anak dan beberapa film dokumenter.
Most Succesful Movie:
Finding Nemo (2003)

Academy Award Winning for Best Animated
PG – Parental Guidance Suggested
rating ini menyarankan orang tua unuk mendampingi sang anak saat menyaksikan fil karena orangtua mungkin tidak ingin anaknya melihat beberapa unsur tertentu yang disajikan. PG rating ini biasanya mengandung unsur adegan pakaian dalam, kata-kata yang kurang pantas, kekearsan ringan ataupun perihal obat terlarang yang hanya tersaji secara minimalis. Secara mudahnya, film anak-anak yang gagal masuk rating G karena mengandung unsur di atas, paling tidak akan masuk kategori ini.
Most Succesful Movie
Star Wars (1977)
PG 13 – Parents Strongly Cautioned
Rating yang mewajibkan anak di bawah 13 tahun untuk didampingi oleh orang tuanya merupakan target rating bagi kebanyakan film unggulan yang berusaha meraup dollar sebanyak-banyaknya. Orang tua wajib mendampingi karena film rating ini mengandung kata-kata kasar, adegan tanpa busana meskipun tidak eksplisit, menapilkan sedikit adegan berdarah dan obat-obatan terlarang. Hampir seluruh film yang masuk jajaran film terlaris sepanjang masa ada dalam kategori ini.
Most Succesful Movie
Titanic (1999)
R – Restricted
rating ini mewajibkan kepada orangtua untuk mendampingi putra-putri mereka yang belum berusia 17 tahun saat menyaksikan sebuah film. Sesuatu yang sangat jarang terjadi seorang remaja mau dikawal oleh ayah ibunya untuk menyaksikan film yang mengandung ucapan kasar dan vulgar, menampilkan adegan orang tanpa busana serta kekerasan dan penggunaan obat-obatan terlarang yang dominan sepanjang film. Tidak banyak film yang memiliki rating R berhasil merajai tangga box office Amerika. Hal ini disebabkan terbatasnya penonton yang dapat menyaksikan film bersangkutan.
Most Succesful Movie
The Passion of the Christ (2004)

Directed by Mel Gibson
NC 17 – No Children 17 or under Admitted
Hanya untuk yang berusia di atas 17 tahun, tanpa terkecuali! Tidak ada keringanan walaupun Anda datang bersama kakek Anda sekalipun. Tidak banyak produksi Hollywood maupun film yang rilis di Amerika memiliki rating paling tinggi versi MPAA ini. Biasanya film yang mendapatkan rating ini adalah film-film garapan festival yang lebih memetingkan kualitas daripada sisi komersil, seperti Lust, Caution (2007) garapan sutradara kenamaan: Ang Lee. Rating NC 17 mengandung unsur seksual yang eksplisit, kata-kata yang kasar dan vulgar, kekerasan dan penggunaan obat terlarang yang tersaji dengan jelas.
Most Succesful Movie
Showgirls (1995)
MPAA yang seolah menjadi penguasa rating tidak disukai oleh kalangan film indie karena dianggap diskriminatif dan hanya menguntungkan produser video besar saja. Siapa mereka dan kenapa dipilih juga tidak transparan. Kebanyakan film indie memang lebih memperhatikan keontetikan cerita sehingga banyak adegan apa adanya. Otomatis MPAA sering memberi cap NC-17 bagi film indie, cap maut karena hanya sedikit saja yang bisa menonton film itu, sedangkan pembuat film tentunya ingin ditonton oleh banyak orang.***
Sumber: Cinemags 112th edition “Quantum of Solace” November 2008
Posted by lazuardian in Rough Critics.
Tags: 2008, Audio, Big is Beautiful, Boikot, Festival, Film, Hafidz Abu Halifah, Hak Cipta, Indie, Lagu, Musik, Pro U Media
Bagaimana mungkin sebuah film yang nyata-nyata melanggar hak cipta bisa menjadi pemenang dalam sebuah festival film independen? Hal seperti ini hanya bisa terjadi apabila juri yang memberikan penilaian dalam festival ini tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai film independen. Independen (indie) dimaknai sekedar sebagai film pendek yang dibuat dengan kocek terbatas dan bukannya didanai oleh perusahaan film ternama seperti Miles, Sinemart, Soraya Intercine dan sejenisnya. Sehingga apabila dalam film tersebut ternyata mengandung sesuatu yang ternyata melanggar hak cipta orang lain, maka sudah sepatutnya hal tersebut diabaikan. Lihat saja bagaimana pihak Pro U menulis evaluasi untuk film BIG IS BEAUTIFUL yang dibuat oleh Hafidz Abu Halifah dan kawan-kawan dalam proumedia.blogspot.com
“Sebenarnya ide cerita film ini menarik, tapi sebagai film pendek alur ceritanya terlalu panjang Bahkan sosok Biganiah sebagai pemeran utama, setelah membaca buku, dari zero kemudian menjadi hero tapi akhirnya justru meninggal. Aktingnya juga kurang bagus, banyak adegan-adegan yang kesannya dipaksakan. Termasuk penghinaan terhadap kegemukan si Big yang berlebihan. Kualitas gambar juga tidak terlalu bagus, angle pengambilan gambar yang masih berkutat di zona aman. Artinya jika di eksplore lebih berani, hasilnya bisa lebih bagus.”
Hanya seperti itu. Sama sekali tidak disinggung soal pemakaian lagu-lagu yang tidak asing di telinga kita, seperti lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Monica, misalnya, yang dijadikan sebagai backsound film, yang kami yakini dipakai tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Ini menunjukkan bagaimana Pro U, dalam hal ini, tidak menghargai usaha sineas indie lainnya yang bersusah payah menciptakan sendiri scoring dan sound yang digunakan dalam filmnya, walaupun (mungkin) secara teknis dan cerita kualitasnya pas-pasan. Lebih jauh lagi, dengan memenangkan Big Is Beatiful sebagai pemenang ketiga, menunjukkan bahwa Pro U tidak menghargai hak cipta orang lain atas karya mereka.
Padahal, selama ini, Pro U media dikenal sebagai penerbit buku-buku religi dan bernilai keislaman. MEMENANGKAN SEBUAH FILM YANG MELANGGAR HAK CIPTA ORANG LAIN SAMA ARTINYA DENGAN MELEGALKAN TINDAKAN PENCURIAN ATAS KARYA ORANG LAIN. Mencuri itu jelas sama sekali tidak islami. Mengutip kata Baba Jan dalam Kite Runner, “satu-satunya dosa adalah mencuri. ketika kamu membunuh orang berarti kamu mencuri kesempatan hidup dari orang tersebut. ketika kamu berbohong, maka kamu mencuri hak mendapatkan kebenaran dari orang lain”.
Dengan dasar itu, kami menyatakan TIDAK SETUJU dengan keputusan Pro U memenangkan BIG IS BEAUTIFUL sebagai juara ketiga festival Indie Pro U 2008, serta meminta pihak Pro U bersikap bijak untuk meninjau kembali keputusannya serta memberikan gelar juara tersebut kepada sineas yang lebih berhak. ***