Lady Chatterly Januari 15, 2009
Posted by lazuardian in Filmologi.Tags: Film, Laddy C, Review
add a comment
Kemarin aku baru aja nonton sebuah film besutan sutradara Pascale Ferran. Film produksi 2006 ini merupakan adaptasi sebuah novel karya D.H. Lawrence yang berjudul asli Lady Chatterley’s Lover. Pada tahun 1900-an, novel ini termasuk jenis novel monumental karena keberanian D. H. Lawrence mengeksploitasi seks dalam novelnya. Saya tidak ingin banyak berkomentar mengenai novelnya karena saya sendiri belum pernah membacanya. Kembali ke film, alur film ini bisa dibilang sangat lambat. Dengan durasi 160 menit, normalnya cukup untuk menceritakan banyak hal.
Kisah ini dimulai dari Lady Constance Chatterley (Marina Hands) yang menikah dengan seorang bangsawan kaya. Normal, karena sang lady juga berasal dari status sosial yang sama. Sebuah kecelakaan membuat Clifford Chatterley (Hippolyte Girardot) lumpuh setengah badan. Hal ini pulalah yang menyebabkan mereka berdua memilih tinggal di sebuah chateau milik Sir Clifford. Lady C yang dulunya tinggal di kota dan memiliki banyak teman mulai bosan karena tidak bisa melakukan apapun di desa terpencil itu sampai dia bertemu dengan penjaga rumahnya yang bernama Olver Parkin (Jean-Louis Coulloc’h). Mungkin saya yang tidak bisa menangkap maksud dari film ini karena yang terlihat bagi saya adalah ketidakpuasan sang lady terhadap suaminya sehingga dia memiliki affair dengan sang penjaga rumah. Bisa dibilang film ini lumayan porno karena terlalu banyak mengumbar seks, apalagi dengan minimnya dialog.
Berdasarkan beberapa tulisan yang saya baca mengenai novel maupun film ini, rata-rata mengatakan film ini tidak termasuk cerita pornografi dan merupakan kritik sosial yang tajam terhadap strata sosial masyarakat era tahun 1900-an. Juga merupakan novel anti-perang yang kuat. Ditambah lagi dengan perempuan sebagai tokoh sentral dalam cerita ini.
Secara sinematografi bagus, karena Ferran berhasil membawa penonton kembali ke tahun 1921, dengan detail kostum yang juga apik. Warna yang lembut, namun terkesan jadul. Terasa berbeda sekali dengan film berkostum lain seperti Amadeus (1986) yang malah masih terkesan relevan dengan mata penonton saat ini, film ini malah kebalikannya. Tidak terlihat seperti sebuah film produksi 2006.
Film ini meraih penghargaan di Cesar Award (Best French Film, Best Actress, Best Litterary Adaptation, Best Cinematography, Best Costume Design), masuk juga dalam Berlin Film Festival.
Entah film ini bisa masuk ke Indonesia atau tidak mengingat banyaknya adegan seks blak-blakan, namun untuk novelnya sendiri telah terbit seperti judul aslinya “Lady Chatterley’s Lover”.
(Diambil dari berbagai sumber)
(^o^v)
Festival Film Dokumenter Terbesar Dimulai Desember 2, 2008
Posted by lazuardian in Dokumenter.Tags: Dokumenter, festifal, Film
add a comment
Untuk keduapuluh kalinya, festival film dokumenter internasional Amsterdam (IDFA) dimulai. Di awali dengan pemutaran film Operation Homecoming: Writing the Wartime Experience (Richard Robbins, Amerika, 2007), festival film terbesar di dunia untuk genre dokumenter ini berlangsung hingga 2 Desember.
IDFA telah menyeleksi ribuan film untuk masuk dalam kompetisi dan non-kompetisi dari berbagai program. Sejak 1988, mereka berupaya membuut budaya dokumenter secara nasional dan internasional. Yang dinilai adalah inovasi, orisinalitas, kemampuan profesional, ekspresi, dan nilai sejarah/budaya.
Festival ini telah mempertontonkan karya, di antaranya, Werner Herzog, (lagi…)
PEMENANG KETIGA FESTIVAL FILM INDIE PRO U 2008 LANGGAR HAK CIPTA November 14, 2008
Posted by lazuardian in Rough Critics.Tags: 2008, Audio, Big is Beautiful, Boikot, Festival, Film, Hafidz Abu Halifah, Hak Cipta, Indie, Lagu, Musik, Pro U Media
1 comment so far
Bagaimana mungkin sebuah film yang nyata-nyata melanggar hak cipta bisa menjadi pemenang dalam sebuah festival film independen? Hal seperti ini hanya bisa terjadi apabila juri yang memberikan penilaian dalam festival ini tidak memiliki pemahaman yang memadai mengenai film independen. Independen (indie) dimaknai sekedar sebagai film pendek yang dibuat dengan kocek terbatas dan bukannya didanai oleh perusahaan film ternama seperti Miles, Sinemart, Soraya Intercine dan sejenisnya. Sehingga apabila dalam film tersebut ternyata mengandung sesuatu yang ternyata melanggar hak cipta orang lain, maka sudah sepatutnya hal tersebut diabaikan. Lihat saja bagaimana pihak Pro U menulis evaluasi untuk film BIG IS BEAUTIFUL yang dibuat oleh Hafidz Abu Halifah dan kawan-kawan dalam proumedia.blogspot.com
“Sebenarnya ide cerita film ini menarik, tapi sebagai film pendek alur ceritanya terlalu panjang Bahkan sosok Biganiah sebagai pemeran utama, setelah membaca buku, dari zero kemudian menjadi hero tapi akhirnya justru meninggal. Aktingnya juga kurang bagus, banyak adegan-adegan yang kesannya dipaksakan. Termasuk penghinaan terhadap kegemukan si Big yang berlebihan. Kualitas gambar juga tidak terlalu bagus, angle pengambilan gambar yang masih berkutat di zona aman. Artinya jika di eksplore lebih berani, hasilnya bisa lebih bagus.”
Hanya seperti itu. Sama sekali tidak disinggung soal pemakaian lagu-lagu yang tidak asing di telinga kita, seperti lagu yang dinyanyikan oleh Agnes Monica, misalnya, yang dijadikan sebagai backsound film, yang kami yakini dipakai tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Ini menunjukkan bagaimana Pro U, dalam hal ini, tidak menghargai usaha sineas indie lainnya yang bersusah payah menciptakan sendiri scoring dan sound yang digunakan dalam filmnya, walaupun (mungkin) secara teknis dan cerita kualitasnya pas-pasan. Lebih jauh lagi, dengan memenangkan Big Is Beatiful sebagai pemenang ketiga, menunjukkan bahwa Pro U tidak menghargai hak cipta orang lain atas karya mereka.
Padahal, selama ini, Pro U media dikenal sebagai penerbit buku-buku religi dan bernilai keislaman. MEMENANGKAN SEBUAH FILM YANG MELANGGAR HAK CIPTA ORANG LAIN SAMA ARTINYA DENGAN MELEGALKAN TINDAKAN PENCURIAN ATAS KARYA ORANG LAIN. Mencuri itu jelas sama sekali tidak islami. Mengutip kata Baba Jan dalam Kite Runner, “satu-satunya dosa adalah mencuri. ketika kamu membunuh orang berarti kamu mencuri kesempatan hidup dari orang tersebut. ketika kamu berbohong, maka kamu mencuri hak mendapatkan kebenaran dari orang lain”.
Dengan dasar itu, kami menyatakan TIDAK SETUJU dengan keputusan Pro U memenangkan BIG IS BEAUTIFUL sebagai juara ketiga festival Indie Pro U 2008, serta meminta pihak Pro U bersikap bijak untuk meninjau kembali keputusannya serta memberikan gelar juara tersebut kepada sineas yang lebih berhak. ***