Diskusi Fotografi Bareng Yanuarius Harisinthu tentang Seni Pertunjukkan November 10, 2008
Posted by lazuardian in Catatan Seminar.Tags: Fotografi, LIP, Seni Pertunjukkan, Yanuarius Harisinthu, Yogyakarta
add a comment
Tentang definisi seni pertunjukkan bisa dicari di Wikipedia. Intinya, sebelum memotret sebuah pertunjukkan, sebagaimana juga Cornet, Harisinthu juga melewati tahap pra produksi. Bedanya, jika Cornet lebih banyak mempelajari objek dengan membaca dari buku dan berdiskusi dengan pakar, Harisinthu lebih suka berkenalan dengan objek atau orang-orang yang berkaitan dengan pertunjukkan yang akan dia potret. Kemudian ia menggunakan keterangan dari buku, koran dan majalah sebagai tambahan (atau referensi utama, jika objek tadi sulit atau tidak mungkin ditemui).
Ada banyak hal yang harus diperhatikan seorang fotografer seni pertunjukkan sebelum memotret. Di antaranya, jenis pertunjukkan apa yang akan dipotret, apa unsur yang menonjol dari pertunjukkan tersebut, bagaimana posisi antara penonton dan objek (entah bentuk panggung, entah ketinggian kursi penonton, dan semacam itu). Semua hal ini sangat berguna nanti ketika eksekusi. Apa gunanya?
Pertama, fotografer bisa melakukan blocking atau menentukan di mana nanti kira-kira ia akan mengeksekusi objek agar mendapatkan foto yang bagus. Biasanya pada saat pertunjukkan berlangsung, mondar-mandir termasuk hal yang dilarang dan dianggap tidak sopan. Kedua, fotografer bisa menentukan bagaimana pencahayaan dalam pertunjukkan, sehingga ia bisa menentukan peralatan apa yang mesti dia bawa dan dia pakai.
Pada saat eksekusi, penting bagi si fotografer untuk mengingat-ingat catatan selama masa pra produksi tadi. Kemudian usahakan juga, kehadirannya tidak mengganggu penonton (jangan pake blitz, jangan bikin suara-suara, jangan pake pakaian yang mencolok, jangan motret pake hape, etc.). Untuk beberapa even tertentu, biasanya memerlukan ijin. Jadi jangan sampai jauh-jauh datang dari Jogja ke Jakarta, kemudian sesampainya di sana ternyata tidak diijinkan masuk ke gedung pertunjukkan. Memilukan.
Pahami juga bahwa ada ruang-ruang tertentu bagi objek yang harus dihormati. Momennya okelah bagus, tapi tindakan memotret di ruang-ruang tersebut bisa dibilang sangat kurang ajar dan jauh dari sopan. Kalau memang oleh panitianya tidak boleh memotret di kawasan tertentu, atau hanya diijinkan dari jarak tertentu, dilarang naik ke atas panggung dan sebagainya, ya berarti tidak boleh. Persoalan etika ini sayangnya kurang diperhatikan oleh para fotografer muda yang gila momen.
Foto-foto seni pertunjukkan bisa digunakan untuk banyak hal. Misalnya untuk keperluan revitalisasi. Bisa jadi seni pertunjukkan yang diadakan tersebut terbilang langka dan kemungkinan besar akan punah di masa yang akan datang. Lewat foto, generasi di masa depan bisa melihat bagaimana seni pertunjukkan tadi. Foto-foto seni pertunjukkan juga bisa dipakai untuk kepentingan dokumentasi, arsip dan pameran, serta diretori, misalnya jika kita ingin mengetahui perkembangan seni pertunjukkan tersebut dari tahun ke tahun atau tiap-tiap masa penyelenggaraannya.
***
Jadi, dari diskusi tadi ada beberapa hal yang bisa kita jadikan catatan.
Pertama, bahwa memotret itu ngga boleh sembarangan. Ujug-ujug dateng ke sebuah tempat terus motret, tanpa persiapan mengenali objek atau kondisi lapangan sama sekali. Fotografer profesional itu punya pengetahuan yang luas dan kesabaran yang tinggi. Mereka tidak pernah memotret objek tanpa persiapan, walaupun sudah dibekali dengan peralatan canggih. Pada kenyataannya, Nicholas Cornet dan Yanuarius Harisinthu, jarang sekali menggunakan perangkat fotografi digital. Sebaliknya, mereka lebih nyaman menggunakan kamera analog yang menurut kita, fotografer muda di era digital ini, tergolong kuno, sulit dan mahal.
Kedua, bahwa memotret itu tindakan yang memiliki tujuan. Sehingga pendekatan yang dipakai pun seharusnya berpedoman pada tujuan tersebut. Kalau ingin memotret dengan tujuan dokumentasi, misalnya, momen adalah segalanya. Bukan berarti masalah teknis kemudian menjadi tidak penting, hanya menjadi kurang berarti bila disandingkan dengan momen yang kita dapatkan. Momennya oke, teknisnya berantakan. Ga fokus, gambar goyang dan tidak tajam. Ga masalah. Nicholas Cornet, misalnya. Walaupun sebagian fotonya yang aku lihat tidak begitu bagus secara teknis, tapi Cornet berhasil merekam momen-momen yang hebat.
Ketiga, (ini sih kesimpulan aku sendiri, hehe) walaupun Nicholas Cornet dan Yanuarius Harisinthu, dengan alasan mereka masing-masing, memilih untuk menggunakan kamera analog dan jarang menggunakan digital, pada dasarnya mereka bukan orang yang anti dengan teknologi. Kalaupun Cornet, misalnya, seringkali menyatakannya kekesalannya pada teknologi digital, yang sebenarnya dia sesali bukan lahirnya teknologi itu sendiri, melainkan efek yang diakibatkan penggunaan teknologi tersebut (fotografer jadi malas melakukan riset, malas belajar dari kesalahan, semacam itu). Jadi, kalau kamu menggunakan kamera digital dengan prinsip pemotretan yang sama dengan yang digunakan Cornet, yang juga sangat dianjurkan oleh Yanuarius Harisinthu dan Risman Marah, aku rasa tidak masalah. Pada kenyataannya, bukan alat yang penting, melainkan orang yang menggunakan alat tersebut alias men behind the gun! *** [ch]
catatan seminar bareng Nicholas Cornet dan Yanuarius Harisinthu, 26 Mei 2oo8 at auditorium LIP pt II
Diskusi Foto Bareng Nicolas Cornet November 10, 2008
Posted by lazuardian in Catatan Seminar.Tags: Fotografi, LIP, Seni Pertunjukkan, Tradisi, Yogyakarta
3 comments
Nicholas Cornet mengawali diskusi dengan bercerita mengenai kegiatan memotretnya. Cornet selalu membutuhkan persiapan sebelum memotret objeknya dan biasanya persiapan itu bisa memakan waktu yang lama, satu tahun katakanlah. Dalam satu tahun itu, Cornet akan membaca apa saja tentang objeknya. Ia bahkan tidak segan-segan berdiskusi dengan pakar atau peneliti yang berkaitan dengan objek agar dapat memahami objek dengan lebih baik. Setelah itu, ia akan membuat satu dua halaman sinopsis berisi gagasannya tentang objek. Satu gagasan nantinya harus diwakili oleh satu photograph.
Setelah menguasai bagian pentingnya, semakin mudah buat Cornet membingkai objeknya di lapangan, serta memberinya sentuhan khas Cornet. Dengan alasan yang sama, tidak sulit juga buat Cornet mendedikasikan foto-fotonya untuk tujuan yang berbeda. Misal foto yang sama, yang semula dibuat dengan tujuan reportase, kemudian dipakai untuk tujuan dokumentasi dan pameran.
Cornet mengeluhkan kebiasaan fotografer yang lahir di era digital yang biasanya asal jepret saja ketika datang ke lapangan, tanpa mau bersusah payah mengadakan riset sebelum memotret. Padahal yang penting itu bukan banyaknya tumpukannya, melainkan kualitas fotonya. Untuk membuat sebuah foto yang berkualitas, kau harus mengibaratkan foto itu sebagai bahasa atau musik. Bayangkan satu lembar penuh kertas yang berisi kata-kata yang sama. Atau bayangkan piringan hitam rusak yang berulang-ulang memainkan melodi yang sama. Memuakkan. Jadi usahakan buat variasi sebanyak mungkin ketika memotret. Cari sudut pandang yang unik dan tidak biasa. Juga carilah objek yang berbeda.
Tapi bagaimana jika kemudian fotomu ternyata gagal? Sementara fotografer era digital, seperti aku, seringkali membuang foto-foto hasil jepretannya tanpa merasa bersalah, Cornet selalu merasa sedih setiap kali harus menyingkirkan fotonya yang dianggap gagal. Setelah semua riset dan kehati-hatiannya selama memotret objek di lapangan, wajar kalau Cornet merasa sedih. Tapi ia menganggap foto-foto yang gagal itu selalu bisa memberinya pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan serupa di kemudian hari.
Sedangkan fotografer-fotografer tadi, menurut Cornet, berpikir bahwa setiap foto bisa didapatkan dengan murah, bahkan hampir gratis, sehingga ketika ternyata hasilnya jelek, ya lebih baik disingkirkan saja. Toh, nothing to lose. Besok-besok tinggal datang ke acara lain lagi, dan njepret lagi. Padahal dengan begitu, fotografer-fotografer tadi tidak akan pernah belajar dari kesalahan mereka, sekaligus juga akan sulit mendapatkan foto yang berkualitas.
Cornet sendiri mengaku lebih nyaman menggunakan analog ketimbang digital. Bahkan untuk presentasi, Cornet biasanya menggunakan slide alih-alih menggunakan viewer laptop atau komputer. Sayangnya, teknologi yang satu ini tidak pernah kedengaran lagi kabarnya di Indonesia, kalah diserbu perangkat fotografi digital yang lebih mudah dan murah. Cornet akan menggunakan digital kalau ia membutuhkan foto tersebut dengan cepat atau untuk kepentingan koran dan majalah yang biasanya tidak begitu menuntut gambar-gambar bagus.
Nicholas Cornet kemudian menunjukkan foto-foto jepretannya. Untuk foto-foto di Borobudur, cerita Cornet, sebelum memotret ia banyak membaca buku tentang Borobudur, Buddha, dan upacara waisak. Ketika di lapangan, Cornet hampir tidak pernah memotret sendirian. Biasanya ia akan ditemani oleh ahli arkeologi, penduduk setempat, guide, yang jumlahnya sampai 5 atau 6 orang.
Kemudian untuk foto di Vietnam, Cornet memotret kehidupan sebagian warga vietnam yang dihabiskan di atas kapal. Kebetulan beliau bisa berbahasa Vietnam. Hari pertama, Cornet datang dan memperkenalkan diri. Dua sampai tiga hari berikutnya barulah ia membawa kamera dan memotret. Inilah, menurut saya, yang menjadikan foto-foto Cornet selalu terlihat istimewa. *** [ch]
Catatan Seminar Fotografi bareng Nicholas Cornet dan Yanuarius Harisinthu pt I 26 Mei 2oo8 at Auditorium LIP



